Simbiosis Mutualisme Penjahat Intelektual

MEMBUAT skripsi merupakan salah satu prasyarat yang harus dilalui oleh mahasiswa untuk mendapatkan gelar kesarjanaan strata satu (S 1). Selain sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar tersebut, skripsi juga bisa dijadikan alat untuk mengukur kadar (kualitas) intelektual mahasiswa.

Pasalnya, prasyarat pembuatan skripsi itu menuntut mahasiswa tidak cukup sekadar pintar metodologi, tapi juga harus pandai menganalisa sebuah permasalahan. Permasalahan yang dimaksud tentunya sesuai dengan objek penelitian yang diangkat. Literatur-literatur yang berkaitan dengan objek penelitian juga harus benar-benar dikuasai.

Pendeknya, dalam proses pembuatan skripsi itu, minimal ada empat hal yang harus diperhatikan. Pertama, penguasaan metodologi. Kedua, tema atau objek penelitian. Ketiga, tersedianya literatur. Keempat, yang sangat penting adalah kemampuan menganalisa.

Kemampuan menganalisa yang baik, yang selanjutnya dijadikan sebagai bahan untuk memberi kritik dan saran bagi permasalahan-objek penelitian, akan memperlihatkan apakah mahasiswa bersangkutan cukup kapabel dan mumpuni dalam bidang keilmuan yang ditekuninya.

Meskipun dalam praktik pembuatan skripsi itu mahasiswa didampingi oleh pembimbing, namun kemampuan mahasiswalah yang paling menentukan baik tidaknya skripsi yang dibuat.

Penjahat Intelektual

Sayang, pembuatan skripsi yang seharusnya bisa dijadikan tolok ukur intelektualitas mahasiswa, harus tercemari oleh praktik perjokian atau yang lebih dikenal dengan term (istilah) biro skripsi.

Dengan imbalan antara Rp 800.000 sampai dengan Rp 2.000.000/skripsi, tergantung tingkat kesulitan pembuatannya, biro skripsi membantu tugas akademik mahasiswa yang sangat menetunkan itu.

Dikatakan menentukan, karena berhasil tidaknya mahasiswa melalui jenjang pendidikan S 1, pada akhirnya ditentukan dari berhasil tidaknya mahasiswa membuat skripsi, yang akan dipertahankan di depan (sidang) penguji.

Artinya, apabila seorang mahasiswa berhasil lolos dengan skripsi hasil buatan sendiri, tentu pantas yang bersangkutan mendapat gelar sarjana, karena ia sudah dengan susah payah peras otak dan banting tulang melakukan penelitian ilmiah sebagai tugas akhirnya, sebelum gelar sarjana disandangnya.

Pertanyaannya, pantaskah seorang mahasiswa menyandang gelar kebesaran “sarjana” jika skripsinya hasil buatan orang lain, dari para calo pembuatan skripsi?

Tentu tidak, karena ia tidak melakukan proses akademik formal yang harus dilaluinya. Maka tidak berlebihan dan bahkan pantas jika yang bersangkutan, baik mahasiswa maupun ‘pebisnisí perjokian atau biro jasa pembuatan skripsi, dikatakan sebagai penjahat intelektual.

Sebab, berkat biro skripsi, seseorang yang tidak seharusnya menyandang gelar sarjana, dapat dengan gagah dan sombongnya membusungkan dada, karena berhasil menyandang gelar tersebut.

Sedangkan mahasiswa sendiri, telah menjadi seorang pecundang bagi dunia akademik. Ia telah menipu diri dan dunia akademik karena mendapatkan gelar kesarjanaan yang tidak seharusnya disandangnya.

Memang, dalam praktik perjokian atau biro skripsi ini, keduanya, baik mahasiswa maupun biro skripsi, sama-sama mendapatkan keuntungan. Biro skripsi diuntungkan karena bisa memperoleh penghasilan yang cukup lumayan, dengan waktu pembuatan -jika digarap dengan serius- tidak membutuhkan waktu lama.

Sedangkan mahasiswa, apalagi yang di perguruan tinggi negeri (PTN) yang sudah terancam drop out (DO) karena batas maksimal belajarnya (14 semester) hampir habis, misalnya, biro skripsi bisa membantu menyelamatkannya, sehingga gelar sarjana bisa diraih.

Namun, meskipun ada simbiosis mutualisme, kerja sama saling menguntungkan antara kedua belah pihak, baik mahasiswa maupun para biro skripsi, hal itu tetap tidak bisa dibenarkan. Karena dengan itu, bangsa yang sudah bodoh ini semakin bodoh. Maka, sadarlah wahai para penjahat intelektual. Perbuatanmu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.

Suara Merdeka Kamis, 28 April 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: